Tentara Nasional Indonesia Bersemayam Dalam Museum Satria Mandala

Tentara Nasional Indonesia terbentuk dari ikrar bertaruh nyawa sampai mati demi menjaga ketat sucinya makna proklamasi pada tanggal 17 Agustus.

Ungkapan barusan adalah kutipan perkataan terkenal dari seorang pemimpin tentara perang bernama Jenderal Sudirman, tertulis pada tembok museum perjuangan TNI. Nama resminya adalah Museum Satria Mandala, berlokasi tepat di pusat Jalan Gatot Subroto, DKI Jakarta.

Cerita perjuangan ribuan prajurit yang tergabung dalam satuan Tentara Nasional Indonesia dapat kita telusuri secara mendalam dan detail.

Tentara Nasional Indonesia Bersemayam Dalam Museum Satria Mandala

Tidaklah membosankan berkunjung ke Museum Satria Mandala, seperti hal nya belajar mata pelajaran sejarah di jaman sekolahan dahulu kala. Soalnya, ada begitu banyak medium beragam untuk kita pelajari di sana seperti misalnya pahatan, miniatur, artefak bersejarah, hingga foto asli.

Satria Mandala sebagai pengenang jasa para tentara perang tersebut awalnya bukanlah gedung museum seperti sekarang ini. Dulunya bernama Wisma Yaso, merupakan tempat tinggal khusus istri ke sekian bung Karno asal Jepang yaitu Naoko Nemoto bantuan tokoh pejuang asing. Nantinya, wanita berdarah jepang ini mendapat gelar spesial pilihan presiden Soekarno sendiri, menjadi nama indah Ratna Sari Dewi.

Gedung Wisma Yaso pun pernah menjadi sarana persinggahan Bapak Proklamator sambil menikmati bulan madunya bersama sang istri muda tercinta. Tercatat hampir 18 bulan lamanya beliau mengisi rumah yang menjadi saksi sejarah akan bukti cinta dua insan berbeda keturunan.

TNI Lahir Berkat Kontribusi Para Jenderal Perang

Ketika memasuki aula utama, lempengan batu ukiran bertuliskan naskah proklamasi Republik Indonesia menjadi sambutan hangat bagi para pengunjung. Tempat berselimutkan dinding bermaterial marmer tersebut bernama Ruang Panji-Panji.

Tentara Nasional Indonesia mengemban tugas penting mengawal jalannya pengumuman proklamasi bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa kita pada 1945 silam. Semua tergambarkan secara sempurna tercermin dalam penataan Ruang Panji-Panji lengkap dengan foto tujuh Presiden Indonesia berurutan bersama para wakil.  Di ruangan inilah bisa kita saksikan ragam peristiwa melalui ornamen, miniatur, hingga diorama mengingatkan hiruk pikuk jaman penjajahan.

Berlanjut kepada ruangan selanjutnya, akan kalian temukan sebuah kamar khusus berisi serba serbi kehidupan empat jenderal besar Indonesia.  Pada sisi kamar terdapat banyak sekali pajangan, mulai dari surat-surat, barang pusaka, hingga senjata andalan masing-masing jenderal ketika berperang dahulu. Mereka semua telah gugur di medan peperangan bukan hanya sebagai tentara perang, melainkan juga bergelar pahlawan nasional republik Indonesia.

Tentara Nasional Indonesia Lahir Berkat Kontribusi Para Jenderal Perang

Tentara Nasional Indonesia Lahir Berkat Kontribusi Para Jenderal

Sebagai Panglima Perang Angkatan Pertama, Jenderal Sudirman mendapat satu tempat khusus membahas segala macam biografi tentangnya semasa masih hidup. Selain sekumpulan foto besar serta lukisan potret beliau, ada juga tandu legendaris yang sering dinaiki olehnya kala berjuang melawan penyakit. Rupanya, bung Karno sempat menjadikan tempat tersebut sebagai kamar tidur, karena kita bisa menemukan ranjang tempat Soekarno berbaring dulunya.

Selain Jenderal Sudirman, kalian pun bisa mempelajari rekam jejak peninggalan tokoh lainnya, misalnya Jenderal Oerip Soemohardjo, atau Jenderal A. Nasution. Bapak Oerip pada masanya menempati kursi Kepala Staf Angkatan Perang Pertama, di mana semua sepak terjang beliau dapat kalian cerna. Saking lengkapnya, Mayor Jenderal Soeharto sekaligus mantan presiden RI ke dua juga mendapat area spesial dalam Museum Satria Mandala.

TNI Lahir Berkat Kontribusi Para Jenderal Perang1

Tentara Nasional Indonesia belumlah lengkap menjadi prajurit apabila tidak punya serangkaian perlengkapan dan peralatan perang yang wajib mereka bawa senantiasa. Bermacam-macam jenis ranjau berderet rapi pada sebuah etalase di tengah bangunan, bisa untuk siap lempar atau tertanam dalam tanah. Miniatur pesawat tempur, helikopter, sampai kapal Angkatan Laut, semuanya terbuat dari kualitas baik sehingga sangat detail bentuknya.

Tentara perang kita sama sekali tidak memalukan karena dipersenjatai dengan berbagai fitur mumpuni meskipun belum semuktahir negara bagian barat bumi.  Kita pernah menggunakan torpedo, tanker darat, meriam statis maupun berjalan dengan bantuan roda, bahkan rudal kontrol manual jarak jauh. Bagaimanapun juga, penggunaan batang bambu yang diserut ujungnya hingga meruncing takkan pernah lupa menjadi bagian semangat perjuangan Indonesia.

Para Jenderal Perang1

Sesekali menyempatkan diri untuk mengunjungi Museum Satria Mandala sangat bermanfaat menumbuhkan kecintaan akan tanah air tempat kita lahir dan besar. Seharusnya kita bersyukur pada pemerintah sekarang, karena masih menyediakan sejumlah dana pemeliharaan pada bangunan bersejarah seperti pada museum tersebut. Dengan demikian, semoga kita semua bersatu sebagai bangsa yang utuh dengan mengesampingkan perbedaan silsilah karena terikat pada Bhinneka Tunggal Ika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *